Grafik pergerakan rupiah terhadap dolar AS dengan latar belakang peta keuangan global, menunjukkan pelemahan ke level Rp17.690/US$ dan tekanan dari defisit transaksi berjalan.
Grafik pergerakan rupiah terhadap dolar AS dengan latar belakang peta keuangan global, menunjukkan pelemahan ke level Rp17.690/US$ dan tekanan dari defisit transaksi berjalan.

Pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi kondisi eksternal dan defisit transaksi berjalan yang membesar, konteks penting bagi rekan yang mengikuti arah ekonomi Indonesia.

Rupiah Melemah ke Rp17.690/US$ Alur cerita dan fakta utama

Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.690 per dolar AS pada perdagangan Jumat (22/5/2026), ditopang oleh penguatan dolar AS dan pelemahan sentimen terhadap mata uang berkembang. Pelemahan ini memperpanjang tekanan dari hari sebelumnya, dengan rupiah sempat menyentuh level psikologis Rp17.700. Di tengah pergerakan tersebut, Bank Indonesia merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk kuartal I-2026 yang menunjukkan defisit transaksi berjalan sebesar US$4 miliar atau 1,1% dari PDB—yang menjadi yang terbesar sejak kuartal IV-2019.

Defisit tersebut meningkat dibanding kuartal sebelumnya (US$2,5 miliar) dan jauh lebih tinggi dari kuartal I-2025 (US$200 juta). Meski demikian, BI menilai kondisi tetap terkendali dengan surplus pada neraca perdagangan nonmigas, meski lebih rendah akibat perlambatan ekonomi global dan gangguan rantai pasok. Di sisi eksternal, dolar AS menguat dengan indeks DXY mencapai 99,293, didorong ketegangan AS-Iran terkait stok uranium dan kendali Selat Hormuz yang masih belum menemui titik terang.

Pasar mencermati sinyal positif dari Menlu AS Marco Rubio soal pembicaraan damai, namun ketidakpastian masih tinggi. Penguatan dolar AS secara global membatasi ruang penguatan mata uang berkembang, termasuk rupiah. Ke depan, pelaku pasar akan mengawasi perkembangan neraca pembayaran dan dinamika geopolitik yang bisa memengaruhi arah nilai tukar.

Fakta

  • Rupiah ditutup melemah 0,28% ke level Rp17.690/US$ pada 22 Mei 2026.
  • Defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 mencapai US$4 miliar atau 1,1% dari PDB, terbesar sejak akhir 2019.
  • Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,04% ke level 99,293 pada pukul 15.00 WIB.
  • Bank Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan nonmigas meski lebih rendah dari kuartal sebelumnya.
  • Ketegangan AS-Iran terkait stok uranium dan Selat Hormuz picu volatilitas pasar keuangan global.

Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial