
Penurunan harga minyak memberi konteks ringan untuk rekan yang mengikuti dinamika energi global dan inflasi.

Harga Minyak Dunia Anjlok 11% Alur cerita dan fakta utama
Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pekan ini, dengan minyak Brent turun 11,1% dan WTI turun 9,57% secara point-to-point. Penurunan terjadi karena pasar merespons positif perpanjangan gencatan senjata 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran, yang sebelumnya hanya diperpanjang dua pekan sekali. Gencatan senjata yang dimulai sejak 8 April 2026 ini mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang rawan konflik.
Perjanjian yang lebih panjang ini dianggap sebagai komitmen substantif dari kedua belah pihak, sehingga mendorong investor mengurangi ekspektasi skenario terburuk. Data menunjukkan harga minyak Brent berada di US$92,05 per barel dan WTI di US$87,36 per barel pada akhir pekan lalu. Pasar energi pun menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah bergejolak selama beberapa minggu.
Namun, ketidakpastian masih membayangi. Citigroup memperingatkan bahwa meski harga turun, kenaikan harga minyak sebelumnya telah memberi tekanan inflasi yang lebih luas. Bank sentral global pun diminta tetap waspada, karena volatilitas energi bisa memicu kebijakan moneter yang lebih ketat jika ketegangan kembali memanas.
Fakta
- Harga minyak Brent turun 11,1% sepanjang pekan hingga 29 Mei 2026, berada di US$92,05 per barel.
- Minyak WTI turun 9,57% dan mencapai US$87,36 per barel pada periode yang sama.
- Gencatan senjata AS-Iran diperpanjang 60 hari pada 28 Mei 2026, setelah sebelumnya hanya dua pekan.
- Citi menyatakan pasar mulai stabil, tetapi tetap waspada terhadap risiko inflasi dari kenaikan harga energi sebelumnya.
Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial





