
Pergerakan perak yang terjepit antara inflasi energi dan kebijakan moneter memberi konteks ringan untuk rekan yang mengikuti pasar komoditas global.

Perak Tertekan Dua Kekuatan Besar Alur cerita dan fakta utama
Harga perak dunia bergerak volatil pada pekan ini, ditutup di level US$76,56 per troy ounce setelah sempat menyentuh titik terendah US$73,82 pada awal pekan. Pergerakan ini mencerminkan kebingungan pasar dalam merespons dua tekanan besar: ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Konflik AS-Iran terus memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia. Laporan bahwa Iran mempercepat pemulihan kapasitas militernya dan menolak melepaskan stok uranium memperkeruh prospek perdamaian, sehingga harga minyak tetap tinggi dan memicu risiko inflasi di Amerika Serikat.
Di sisi moneter, Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan perlunya mengakhiri bias pelonggaran kebijakan, sementara pasar memperkirakan 55% kemungkinan kenaikan suku bunga 25 basis poin sebelum Oktober 2026. Kondisi ini membuat perak—yang tidak memberikan imbal hasil—menjadi kurang menarik dibanding aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS.
Meskipun secara tahunan harga perak masih naik lebih dari 125%, performa bulanannya nyaris stagnan. Perak juga tertinggal dari komoditas lain seperti lithium (naik 182% tahunan) dan emas (naik 34% tahunan), menunjukkan kehati-hatian investor dalam menjadikannya sebagai safe haven utama di tengah ketidakpastian kebijakan moneter jangka panjang.
Fakta
- Harga perak ditutup di US$76,56 per troy ounce pada 22 Mei 2026, turun dari US$76,69 pada hari sebelumnya.
- Pada 13 Mei 2026, perak berada di level US$87,97 sebelum mengalami koreksi tajam dalam hitungan hari.
- Pasar memperkirakan 55% kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin sebelum Oktober 2026.
- Gubernur The Fed Christopher Waller menyebut bank sentral sebaiknya mengakhiri bias pelonggaran kebijakan moneternya.
- Iran menolak melepaskan stok uranium, menghambat prospek kesepakatan damai dengan AS dan Israel.
- Harga minyak tetap tinggi karena kekhawatiran gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz.
Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial





