
Langkah hilirisasi nikel yang terlalu melompat ke kendaraan listrik tanpa isi lapisan menengahnya, bisa jadi pelajaran bagi rekan atau kolega yang mengikuti arah industri hijau di Tanah Air.

Fokus ke Baterai, Indonesia Abaikan Stainless Steel Alur cerita dan fakta utama
Indonesia telah berhasil mengolah bijih nikel hingga menghasilkan produk baja tahan karat (stainless steel) dalam skala besar, namun sebagian besar masih berhenti di produk tier-3 seperti slab dan hot rolled coil (HRC). Sekitar 80 persen produksi stainless steel diekspor, sementara kebutuhan dalam negeri justru dipenuhi dengan impor hingga 80 persen, termasuk produk sederhana seperti sendok dan garpu. Ketergantungan impor ini terjadi karena minimnya industri pengolahan lanjutan di dalam negeri untuk produk tier-2 seperti stamping, cutting, dan rolling.
Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma dari Energy Shift Institute (ESI) menyebutkan bahwa Indonesia terlalu fokus pada pengembangan produk tier-1 seperti kendaraan listrik berbasis nikel, padahal rantai nilai menengahnya belum kuat. Produksi tier-2 yang menjadi jembatan menuju produk akhir justru dibiarkan kosong, sementara investasi asing dari Tiongkok mendominasi produksi tier-3. Tiga perusahaan pengolah tier-2 saat ini hanya tersisa, salah satunya dari India yang sedang dalam proses likuidasi.
Pakar lain seperti Imaduddin Abdullah dari INDEF menilai bahwa potensi nilai tambah dari pengolahan stainless steel justru lebih tinggi dibanding baterai kendaraan listrik, terutama dalam hal diversifikasi industri dan penyerapan tenaga kerja. Teknologi produksi stainless steel juga sudah matang, berbeda dengan baterai EV yang masih membutuhkan banyak riset dan pengembangan. Jika tidak segera diperkuat, Indonesia berisiko kalah bersaing dalam era industrialisasi hijau karena produknya dianggap kurang ramah lingkungan dibanding negara lain.
Fakta
- Indonesia mengolah nikel menjadi stainless steel, tapi 80% produksi diekspor dan 80% konsumsi dalam negeri diimpor.
- Industri dalam negeri belum mampu mengolah produk stainless steel tier-2 seperti stamping dan cutting.
- Ahmad Zuhdi dari ESI menyebut Indonesia langsung ingin lompat ke produk tier-1 (EV) tanpa isi lapisan menengah.
- Produksi stainless steel tier-3 di Indonesia didominasi investasi asing dari Tiongkok.
- Imaduddin Abdullah dari INDEF menyatakan potensi nilai tambah stainless steel lebih tinggi dibanding baterai EV.
Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial





