
Teknologi yang mengubah emisi jadi energi memberi konteks ringan untuk teman yang sedang mengikuti isu energi masa depan.

Baterai Baru Gunakan CO2 untuk Listrik Alur cerita dan fakta utama
Sebuah terobosan baru dalam teknologi baterai muncul dari kolaborasi ilmuwan Asia, termasuk dari Universitas Peking, Nankai, Harbin Institute of Technology, dan City University of Hong Kong. Mereka mengembangkan baterai magnesium-karbon dioksida (Mg-CO2) yang dapat diisi ulang dan memanfaatkan gas CO2 sebagai komponen aktif dalam proses konversi energi. Berbeda dengan baterai lithium-ion yang hanya menyimpan listrik, sistem ini justru mengikat emisi karbon dioksida dan mengubahnya menjadi sumber energi melalui reaksi kimia yang menghasilkan senyawa padat seperti magnesium karbonat atau oksalat.
Keunggulan baterai Mg-CO2 terletak pada penggunaan magnesium sebagai anoda, yang lebih melimpah, murah, dan aman dibanding lithium. Magnesium juga mampu melepaskan dua elektron per atom, meningkatkan kapasitas penyimpanan energi secara teoritis. Selain itu, risiko kebakaran akibat dendrit sangat rendah, menjadikannya pilihan ideal untuk penyimpanan energi skala besar. Namun, tantangan utama muncul saat proses pengisian ulang, karena senyawa magnesium karbonat sulit diuraikan kembali.
Untuk mengatasi hal ini, tim peneliti memodifikasi struktur katoda dengan menambahkan cacat mikro yang presisi, menyesuaikan komposisi elektrolit, serta mengarahkan reaksi ke pembentukan magnesium oksalat yang lebih mudah terurai. Inovasi ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan siklus hidup baterai. Baterai Mg-CO2 diproyeksikan mendukung infrastruktur energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, sekaligus mengintegrasikan fungsi penangkapan karbon langsung di unit penyimpanan. Jika berhasil dikomersialisasi, teknologi ini bisa menjadi solusi ganda: stabilisasi jaringan listrik dan dekarbonisasi industri.
Fakta
- Baterai magnesium-karbon dioksida (Mg-CO2) dikembangkan oleh tim dari Universitas Peking, Nankai, Harbin Institute of Technology, dan City University of Hong Kong.
- Teknologi ini menggunakan CO2 sebagai komponen aktif untuk menghasilkan listrik, sekaligus menyerap emisi karbon.
- Magnesium dipilih karena lebih melimpah, murah, aman, dan mampu melepaskan dua elektron per atom dibanding lithium.
- Tantangan utama adalah sulitnya mengurai kembali senyawa magnesium karbonat saat pengisian ulang.
- Solusi termasuk modifikasi katoda dengan cacat mikro, penyesuaian elektrolit, dan pengarahan reaksi ke pembentukan magnesium oksalat.
- Baterai ini diproyeksikan untuk penyimpanan energi skala besar yang mendukung tenaga surya dan angin sekaligus menangkap karbon.
Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial





