
Pergerakan emas kali ini memberi konteks ringan untuk rekan yang mengikuti dinamika kebijakan moneter global.

Emas Anjlok, Pasar Waspadai Suku Bunga The Fed Alur cerita dan fakta utama
Harga emas turun 1,4% pada 26 Mei 2026, ditutup di level US$4.508,46 per troy ons, seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Pelemahan ini terjadi meskipun terdapat ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang biasanya mendukung kenaikan harga emas sebagai aset safe-haven. Namun, pasar lebih responsif terhadap sinyal kebijakan moneter ketimbang risiko geopolitik jangka pendek.
Penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi menjadi penekan utama, karena emas yang tidak memberikan yield cenderung kalah menarik saat suku bunga naik. Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2026, terutama setelah pelantikan Ketua baru Fed, Kevin Warsh, yang dianggap pro-pengetatan kebijakan moneter.
Di sisi lain, harga minyak Brent naik lebih dari 4% akibat gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, yang memicu kekhawatiran inflasi lanjutan. Namun, inflasi dari energi belum cukup kuat untuk mengimbangi sentimen negatif dari pasar keuangan. UBS juga telah memangkas proyeksi harga emas akhir tahun menjadi US$5.500 dari sebelumnya US$5.900, mencerminkan tekanan berkelanjutan dari lingkungan suku bunga tinggi.
Fakta
- Harga emas ditutup turun 1,4% pada 26 Mei 2026 di level US$4.508,46 per troy ons.
- Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve pada 22 Mei 2026.
- Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga 25 bps oleh The Fed pada Desember 2026.
- Harga minyak Brent naik lebih dari 4% akibat ketegangan AS-Iran dan gangguan di Selat Hormuz.
- UBS memangkas proyeksi harga emas akhir tahun 2026 dari US$5.900 menjadi US$5.500.
Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial





