Ilustrasi fregat Belanda HNLMS De Ruyter di tengah ketegangan dengan kapal dan helikopter Cina di perairan Laut Cina Selatan, dengan latar pulau buatan dan gelombang sinyal elektronik.
Ilustrasi fregat Belanda HNLMS De Ruyter di tengah ketegangan dengan kapal dan helikopter Cina di perairan Laut Cina Selatan, dengan latar pulau buatan dan gelombang sinyal elektronik.

Insiden ini memberi konteks ringan untuk teman yang sedang mengikuti dinamika keamanan maritim di kawasan Indo-Pasifik.

Fregat Belanda Dihadang Cina di Laut Cina Selatan Alur cerita dan fakta utama

Fregat Angkatan Laut Kerajaan Belanda, HNLMS De Ruyter (F804), menjadi subjek ketegangan diplomatik dan militer setelah dituduh Cina memasuki perairan Kepulauan Xisha atau Paracel yang disengketakan pada 27 Mei 2026. Insiden terjadi dalam misi lima bulan bernama Pacific Archer 2026, yang bertujuan mempromosikan kebebasan navigasi di Indo-Pasifik sebelum bergabung dengan latihan RIMPAC di Hawaii. Kapal ini sebelumnya sempat bersandar di Surabaya (14–17 Mei) dan Manila (22–24 Mei), melakukan latihan bersama dengan TNI AL dan Angkatan Laut Filipina.

Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA STC) menyatakan bahwa fregat Belanda tersebut tidak hanya memasuki wilayah perairan yang diklaim Cina, tetapi juga menerbangkan helikopter NH90 yang dianggap melanggar wilayah udara kedaulatan. Sebagai respons, Cina mengklaim telah melakukan peringatan verbal dan 'warning electronic jamming'—gangguan sinyal elektronik yang terukur—untuk mengusir kapal dan helikopter tersebut. Juru Bicara PLA, Kolonel Senior Zhai Shichen, menegaskan tindakan itu sesuai hukum dan peraturan internasional.

HNLMS De Ruyter adalah fregat kelas De Zeven Provinciën yang dilengkapi sistem radar canggih seperti APAR dan SMART-L buatan Thales, serta kemampuan perang elektronik tingkat tinggi. Insiden ini terjadi saat Cina tengah memperluas pulau buatan di Antelope Reef, bagian dari Kepulauan Paracel, yang diperkirakan akan menjadi pangkalan militer strategis. Kehadiran kapal Eropa di kawasan ini mencerminkan keterlibatan kekuatan non-regional yang semakin aktif menantang klaim sepihak Cina atas Laut Cina Selatan melalui operasi kebebasan navigasi.

Fakta

  • Pada 27 Mei 2026, PLA mengklaim mengusir fregat Belanda HNLMS De Ruyter dari perairan Kepulauan Xisha (Paracel) dengan jaming elektronik dan peringatan verbal.
  • Cina menuduh kapal Belanda memasuki wilayah yang disengketakan dan menerbangkan helikopter NH90 yang melanggar wilayah udaranya.
  • HNLMS De Ruyter sedang dalam misi Pacific Archer 2026, setelah sebelumnya sandar di Surabaya (14–17 Mei) dan Manila (22–24 Mei).
  • Kapal ini dilengkapi sistem radar APAR dan SMART-L serta kemampuan perang elektronik canggih dari Thales.
  • Insiden terjadi saat Cina sedang memperluas pulau buatan di Antelope Reef untuk pangkalan militer di Laut Cina Selatan.
  • PLA Southern Theater Command menyatakan tindakan mereka sesuai hukum dan peraturan yang berlaku.

Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial