Ilustrasi sistem bintang biner dengan banyak planet kecil mengorbit di sekitarnya, latar belakang galaksi bintang.
Ilustrasi sistem bintang biner dengan banyak planet kecil mengorbit di sekitarnya, latar belakang galaksi bintang.

Penemuan ini memperluas cara kita mendeteksi planet di luar tata surya. Kalau ada teman yang suka astronomi atau sci-fi, ini bisa dibagikan pelan-pelan.

27 Planet Baru Terdeteksi di Sekitar Dua Bintang Alur cerita dan fakta utama

Sebuah tim astronom telah mengidentifikasi 27 planet kandidat yang mengorbit sistem bintang biner, menggunakan metode deteksi baru yang tidak mengandalkan transit planet di depan bintang. Penemuan ini dipimpin oleh Margo Thornton dari Universitas New South Wales dan SETI Institute, dan hasilnya dipublikasikan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. Alih-alih mengamati redupnya cahaya bintang saat planet melintas, tim menggunakan data dari satelit TESS milik NASA untuk menganalisis pergeseran waktu gerhana antara dua bintang dalam sistem biner.

Metode ini memanfaatkan fenomena yang disebut presesi apsidal — perubahan bertahap dalam orbit bintang biner seiring waktu. Ketika sebuah planet mengorbit sistem tersebut, pengaruh gravitasinya menyebabkan gangguan kecil namun terukur pada waktu terjadinya gerhana bintang. Ini memungkinkan deteksi planet bahkan ketika sistemnya tidak sejajar dengan garis pandang dari Bumi, yang merupakan keterbatasan besar dari metode transit.

Planet-planet yang ditemukan disebut "kandidat" karena belum dikonfirmasi secara langsung, tetapi sinyal gravitasinya sangat konsisten dalam data. Penemuan ini membuka jalan bagi deteksi lebih banyak planet sirkumbiner — planet yang mengorbit dua bintang sekaligus, seperti Tatooine dalam Star Wars. Dengan pendekatan baru ini, astronom berharap bisa menemukan lebih banyak sistem planet yang selama ini tersembunyi dari pengamatan konvensional.

Fakta

  • Tim astronom mengidentifikasi 27 planet kandidat yang mengorbit sistem bintang biner pada Mei 2026.
  • Penemuan menggunakan metode baru berbasis pengamatan pergeseran waktu gerhana bintang, bukan metode transit.
  • Studi dipimpin oleh Margo Thornton dari Universitas New South Wales dan SETI Institute.
  • Data berasal dari satelit Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) milik NASA.
  • Metode ini memanfaatkan presesi apsidal dan pengaruh gravitasi planet terhadap orbit bintang ganda.
  • Hasil penelitian dipublikasikan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.

Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial