Ilustrasi dua suporter dari Persija dan Persib berdiri saling memunggungi di tengah stadion kosong, dengan latar belakang dua stadion ikonik: SUGBK dan JIS, menunjukkan ketegangan karena venue belum ditentukan.
Ilustrasi dua suporter dari Persija dan Persib berdiri saling memunggungi di tengah stadion kosong, dengan latar belakang dua stadion ikonik: SUGBK dan JIS, menunjukkan ketegangan karena venue belum ditentukan.

Ketidakpastian venue Derby Indonesia terus memicu ketegangan dan merugikan suporter. Kalau ada teman atau rekan penggemar sepak bola yang merasakan langsung dampaknya, ini bisa dibagikan pelan-pelan.

Venue Derby Belum Jelas, Suporter Jadi Korban Alur cerita dan fakta utama

Derby Indonesia antara Persija Jakarta dan Persib Bandung, salah satu rivalitas paling panas dalam sepak bola nasional, kembali tertunda karena ketidaksepakatan soal venue. Meski pertandingan ini selalu menarik minat besar, penentuan tempat penyelenggaraan terus menjadi polemik akibat tarik-menarik antara status regulasi stadion, kepentingan komersial, dan dinamika politik lokal. Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dan Jakarta International Stadium (JIS) menjadi kandidat utama di Jakarta, sementara Persib konsisten menggunakan Stadion Gelora Bandung Lautan Api dan Si Jalak Harupat.

PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) dan PSSI memiliki kewenangan menentukan venue, namun keputusan sering dikritik karena dianggap kurang transparan. Meski ada sistem rotasi yang diterapkan, masing-masing kubu tetap merasa dirugikan. Faktor keamanan juga menjadi pertimbangan krusial setelah insiden kerusuhan pada 2018 di Bandung yang menyebabkan luka-luka dan kerusakan fasilitas. Suporter dari kedua belah pihak—The Jakmania dan Bobotoh—memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap stadion masing-masing, tetapi juga menginginkan pengalaman menonton yang aman dan adil.

Negara lain seperti Inggris dan Argentina telah menerapkan solusi sistematis untuk derby besar mereka, termasuk rotasi tetap dan penetapan venue netral berbasis keamanan. Di Indonesia, solusi jangka panjang membutuhkan standar venue yang jelas, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta keterlibatan suporter dalam proses pengambilan keputusan. Tanpa niat politik yang tegas dan transparan dari semua pihak, polemik venue Derby Indonesia akan terus berulang tanpa penyelesaian yang berkelanjutan.

Fakta

  • Persija dan Persib belum bisa menentukan venue untuk Derby Indonesia karena polemik yang berlarut-larut.
  • Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dan Jakarta International Stadium (JIS) menjadi opsi utama di Jakarta, sementara Persib menggunakan Stadion Gelora Bandung Lautan Api dan Si Jalak Harupat.
  • Insiden kerusuhan pada 2018 di Bandung menjadi pengingat pahit soal risiko keamanan dalam Derby Indonesia.
  • PT LIB menerapkan sistem rotasi venue, tetapi keputusan ini tetap menuai kritik dari kedua kubu suporter.
  • PSSI dan PT LIB dikritik karena kurang transparan dalam penetapan venue pertandingan berisiko tinggi.
  • Solusi jangka panjang membutuhkan standar jelas, koordinasi antarlembaga, dan keterlibatan suporter dalam pengambilan keputusan.

Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial